14
November 2006, Selasa.
Ketika senja hendak tutup kisahnya pada
jingga, ketika malam kan
segera bertandang pada langitNya, kamu dengan titahmu memberiku amar untuk
beranjak. Tertegun iya, namun kuanggap angin lalu saja. Aah, hanya sementara
saja menurutku. Karena setelahnya, kepergianmu hanya membuatku berkabung
kelabu. Apa guna aku tetap melarutkan malamku dengan mendewakan bayang semu
yang hanya sementara?? 14 November-31 Desember, tak 2 bulan sekalipun sudah
tiada raganya. NIHIL !!
Baiklah, kamu hanya angan yang tak bisa
tersentuh. Asa yang tergantung pada awan.
Dan bila, ketika tatihku bisa
kutegakkan, ketika semua sudah kuwakafkan, ketika nama agungmu sudah tak
kudewakan seperti dulu, juga bayangmu sudah tak kuharapkan jadi kenyataan,
kamu..
01
Oktober 2008 Rabu. Kembali bisa kutemukan jejakmu dibalik senja. Ah, tak ada
hal yang kebetulan didunia ini, Tuhan pasti sudah mengaturnya. Titik. Kita
bertemu dibalik kata melalui satelit ciptaanNya. Hingga, sang hakim hukum
meminang kita pada pertemuan menjelang senja.
Hingga 10 Oktober 2008, Jum’at. Kamu
sudah berbeda. Mengenakan pakaian hitam khas kedewaan, gaya bicara yang tetap memukau titah. Hh,
perkenalan. Aku mengenal, kamu mengenal. Bahkan kita, sama-sama terkenal.
Terkenal dikalangan Tuhan dan MalaikatNya karena ribuan do’a yang dulu sangat
selalu kupanjatkan, kini sudah kembali menjadi harapan yang ingin aku gapai
sejak senja pertama setelah jarak ribuan meter memisahkan kita. Sejak hari itu,
aku kembali dan lagi-lagi mendewakanmu. Kembali menyebut namamu dalam barisan
do’a panjang disetiap malam yang tak pernah kuhentikan. Masih kuingat jelas
dialog singkat kita pada hari itu, dialog akan kehidupanmu yang sangat buatku
iri ingin merasakannya. Ingin mencicipi alur ceritamu bersama mereka. Babah Mamah
yang selalu kamu agungkan. Ah, sepertinya aku mulai merajut mimpi tentang
surganya hidup bersamamu dan keluarga kecilmu. Aku mulai mengakui kembali bahwa
itulah ‘cinta yang tak pernah mau kuakui dulu.
Sepertinya, senja mulai singkapkan
langit. Malam sudah kepakkan sayap hendak membentangkan bintangnya. Ia sudah
intip langit berkali-kali agar ‘dia beranjak dari dialog singkat kami. Aigoo,
akhirnya kamu pulang. Kembali pada istana yang selalu kamu puja puji. Pergi.
Lagi dan lagi. Entah, mungkin akan jadi pertemuan terakhir kita. Ah, mengapa
harus bersua jika kita harus berpisah?? Bahkan, kamu hanya sekali saja menoleh
ke arahku, menoleh pada arahku. Lagi, hanya kala senja itulah kamu beradu kisah
padaku tentang segala hal. Hh, pasrah. Aku tak mau mengemis. Sudah kucukupkan.
Kupikir ini anugerah Tuhan yang mempertemukan kita disuatu majelis yang kuharap
kelak, kita kan
rajut kehidupan. Ah, aku melupakan sesuatu. Aku debu, bahkan tak terlihat. Mana
bisa aku berharap, Tuhan??
Selepas hari dimana kamu pergi, aku
hanya hiasi sujudku agar kamu masih terbuka hati untuk sekedar memberiku arahan
hidup. Yah, sempat aku temukan satu pesanmu yang sungguh sangat ingin aku
abadikannya. ‘harus tirakat’. Itu juga pesan babah padamu ketika kamu hendak
menuntut ilmu, bukan? Ah, bunga berwarna pink mulai menari-nari dihatiku. Aku
bak puteri debu yang tersinari akan cahaya dewa. Ah, lagi-lagi redup. Sinarmu
telah kamu ganti dengan cahay lilin yang sinarnya antara hidup dan mati.
Diambang ketercekikan.
13
Oktober 2008, aku pergi. Ikhlaskan pada Bumi Tuhan jika memang akan ada
pertemuan. Sudah aku wakafkan agar Tuhan kembali takdirkan. Ah, kepergianku
melupa. Karena kamu pun, juga pergi. Kita sama-sama pergi. Menuju Tuhan. Kamu,
melupa sebelum terlupakan. Ah, asaku kembali terpenggal jarak dan waktu.
Baiklah, jika memang khitab Tuhan, kelak kita pasti dipertemukan.
29
April 2009, aku muncul sebagai orang lain. Menceritakanmu akan gadis yang
selalu mndewakanmu setiap waktu selama bertahun-tahun. Menceritakanmu akan
ribuan harapan yang sudah ia rajut. Huufth, kamu tak tau bahwa orang yang
dimaksud adalah ‘Aku. Diriku sendiri. dan pesanmu..
‘jika memang jodoh, aku ga akan kemana.
Titik. Gerimis. Aku harap hujan hadir,
menemani deraian air mata yang memak kali . Aku dalam ketercekikan. Ah, kamu
tetap tak tau. Tetap diam karena kamu memang pendiam. Aku mulai tak sabar.
Mulai nekat bertingkah. Memburu angina yang dapat membawa kabar. Aku tekadkan
memburu kabarmu melalui sosok karib disana. Dan ia memberiku angina yang mampu
runtuhkan tegakku. Kamu, pergi. Lagi dan lagi. Ah, kali ini pergimu sedikit
mendamaikanku, menenangkanku. Pergi menuju Tuhan kita. Mengemis cinta Tuhan ,
pula cinta kasihNya.
Nurul Musthafa. Majlis ta’lim Habib Ha san
bin ja’far Assegaf.
Kamu menjadi tangan kanan beliau.
Entah, berkecamuk. Aku khawatir. Namun berbahagia. Ah, bahkan, aku juga iri.
Aku simpan bersit kekhawatiranku. Aku yakinkan bahwa kamu bisa berjaga diri.
Aku yakin Tuhan akan menemani langkahmu. Karena tujuanmu pun sangat mulia
karenaNya. Ah, aku juga iri, karena kamu mulai belajar mencintai Nabidengan
nyata. Seolah-olah kamulah ummat terdekat dengannya. Aku ingin menyusulmu,
sungguh. Bukan karena ingin bersamamu, bukan karena selalu ingin melihat adamu.
Melainkan, aku juga ingin belajar. Benar-benar hany mencintai Tuhan dan
kekasihNya. Ah, cukup. Kamu saja. Biarkan aku saja yang mendo’akanmu agar kamu
benar-benar meraihNya.
12
September 2009.
13
Maret 2010. Setelah pergantian bulan yang cukup lama, aku kembali teringat asa.
Ah, September-maret. Menghilang. Bahkan mungkin yang sempat aku tahu,
keluargamu juga menanyakan keberadaanmu. September-Maret. Kamu memutus segala
jalur komunikasi. Satu-satunya jalan yang bisa membantuku mengetahui kabarmu.
Oh Tuhan.. kami sudah 2 tahun tak bertemu, aku ingin melihatnya, ingin bersua
asa meski kan
terhempas nantinya. Aku hanya ingin mendengar suaranya saja, agar kutemukan
alas an tuk kubertahan. Dengar sebentar saja harapku ini, ya Tuhaaan..
Yah, Maret. Tuhan jawab harapku dengan
sedikit keterpaksaan mungkin. Suaramu tatp saja penuh lembut bijak. Ah, satu
hal. Tanpa kusebutkan nama, kamu selalu paham siapa yang sedang berdialog
denganmu. Satu asa yang bisa tersisa meski nantinya akan kembali tertiup angin.
ah, sedikit asa saja sudah buatku menjadi gadis bodoh yang benar-benar bodoh.
Sekian tahun, belasan minggu, dan ribuan hari telah aku bunag begitu saja
waktuku hanya untuk menyelinapkan namanya pada angina disetiap malam., agar ia
menyelimuti raganya dengan kedamaian dan kehangatan. Lelaki senja. Memenggal
rindu yang tak bersisa.
Maret-september.
Tetap saja berdzikir namamu. Ratusan, bahkan ribuan kali. Wah, sungguh bodoh,
bukan ?? entah, aku masih tak mngerti mengapa Tuhan belum haramkan hatiku untuk
menghapusnya. Namun, ketika pada malam-malam aku leawti dengan kesepian yang
menyakitkan, juga dengan tanpa kawan, sepertinya.. aku sudah mulai enggan tuk
medewakanmu. Aku tersadar bahwa aku butuh kawan yang secara langsung bisa
memberiku arahan. Dan, Tuhan mengirimkannya. Tuhan kirimkan orang lain untuk
sementara jadikannya badal. Aku sama sekali tak pernah mneyamakan sosok itu
dengan sosokmu. Kamu abadi.
18
September 2010. lelaki lain menyuguhkanku kedamaian. Sedikit mengiyakan, tapi
belum rela mendewakan. Karena yang kudewakan hanyalah lelaki senja yang takkan
pernah berubah. Meski sedikit jujur, aku sudah mulai perlahan tuk melupakannya.
Dan setelah itu, ada beberapa lelaki yang datang silih berganti pada beranda
kehidupanku. Sempat dekat, sempat berbagi asa, bahkan sempat bertukar do’a. Sepertinya,
sudah benar-benar melupakan senja.
Satu
tahun, 2011. Aku benar-benar menafikan lelaki senja. Meski ada, aku selalu saja
berpura-pura lupa untuk berkomunikasi dengannya. Dan tanpa ditanyapun, aku tetap terhempaskan. Aaah sakit, Tuhan.
April
2011. Semuanya terungkap. Tuhan, kini biarkan dia tahu ! yah, dia tahu
semuanya. Dia tahu bahwa dialah lelaki senja yang kumaksud. Akupun juga yakin
bahwa dia tahu jauh sebelum aku pastikan dia tahu. Dan tahukah ?? segala
pernyataan dari seorang teman yang menyampaikan hanyalah berupa kata, “oooh..
truz aku harus gimana??” ujarnya. Aku tahu bahwa katika kamu mendengar
pernyataan itu sedang dalam kebisingan. Dan kembali aku harus menimbulkan
bebarap pikiran-pikiran positif meski mungkin hanyalah sisi negative yang bisa
kutemukan. Namun meski begitu, sudah kuyakinkan bahwa aku bertekad kan benar-benar
mewakafkan segalanya pada Tuhan. Usai sudah. Aku akan mencoba menerima orang
baru dalam hidupku. Hingga tiba pada bulan Februari 2012, aku menemukan orang
lain. Aku sebut dia ‘lelaki berhati salju. Pada orang ini, aku bisa curahkan
bebanku. Beda denganmu yang selalu datang dan tiba-tiba pergi. Ia benar-benar
memberiku naungan ketika aku tak menemukan tempat berdiam. Bahkan, kami dekat.
Sangat dekat. Melebihi dekatmu, dan dekatku. Namun sama, aku masih bersifat
abu-abu dengannya. Karena sejak awal pertemuan kami, aku memperkenalkan sosokku
sebagai adik. Dan memang, ia hanya menganggapku adik. Ah, meski begitu, aku
cukup bahagia. Karena dialah orang setelahmu pertama yang dapat aku akui bahwa
aku sempat mencintainya. Asaku tetap mengalir, dia masih sempurna di hadapanku.
Meskipun sejak awal perkenalan kami, aku sudah banyak menemukan aib-aib
tentangnya. Namun entah, aku kembali buta. Hingga sampai pada suatu hari, aku
tersadar bahwa aku dan dia memang tidak akan bersatu menjalin masa depan
bersama. Dan aku harus bisa menyapu kenangan terindah Tuhan yang sempat
terlukis dalam sejarah. Sampai pergiku pada tempat menuntut ilmu di daerah
bagian barat. Pare: aku mengajakmu mencicipi dunia luar. Dunia yang akan
membuatmu mengerti akan kebebasan dengan menyandang siksaan.
Juli
2012, aku faham beberapa macam pergaulan, dan gaya hidup. Ah, kembali teringat akanmu,
Lelaki senja. Disini, aku menemukan sosok sepertimu. Menemukan orang-orang yang
mungkin gaya hidupnya akan sedikit sama dengan gaya hidupmu disana. Sudah
sudah !! cukup. Setahun sudah kuwakafkan pada Tuhan, dan tak boleh lagi ku
galih tanah yang sudah gersang harapan.
Agustus
2012, disela prosesku melupakan lelaki salju, sosok lelaki penyelamat,
sekaligus penyemangat hadir dalam hari-hariku. Suguhkan beberapa arahan yang
sudah sejak dulu aku harapkan. Menuntunku serta mengajakku pada pinggiran
harapan yang ternyata juga entah pada kenyataan. Ah, bahakna aku rtak berharap
akan ada seseorang lagi. Apa boleh dikata, aku terlanur jatuh pada rayuan
kehidupan yang menjanjikan. Bahkan, ia menjanjikan keseriusan meski aku masih
mensanksikannya. Sadarkah bahwa aku wanita ?? yang sangat lemah bila disentuh
perasaannya. Oh Tuahn mendamba.. harus aku apakan lelaki ini ?? meski banyak
perbedaan diantara kami, aku siap memperjuangkannya dihadapan abah dan ummi,
agar ia dipandang layak oleh kedua orang tuaku. Meski ketika itu, aku tak ada
getaran sekalipun terhadapnya. Dan ketiak aku mencoba suguhkan nama pada abah
umi, tiba-tiba saja ia berkata tak siap. Hah?? Lelaki macam apa dia ?? hanya
ingin mempermainkanku ?? kalau begitu, dia salah. Karena aku masih tak
benar-benar padanya meski aku akui aku takut bila kehilangannya. Sangat !!.
bailkah, anggap diantara kita tak ada apa-apa. Kitapun juga belum berkomitmen
apapun, bukan ?? aku berhak ternafikan. Biar sudah, Tuhan belum mau
mengindahkan cerita yang satu ini.
Pertengahan
sepetember- akhir Oktober, meski pada lisan berkata tak ada apa-apa, sepertinya
aku merindukan lelaki itu, lelaki yang sempat kujuluki ‘lelaki separuh dewa.
Sering mencari sisa bayangnya di ujung terik pertemuan yang selalu tak
berpihak. Mulai berharap bahwa ia kan
kembali menawrkanku tentang keseriusan itu. Namun aku tahu, kami menag berbeda.
Sangat banyak kutemukan perbedaan. Hingga, aku sedikit meragukannya. Ah, biar
saja, aku tak ingin memikrkan pernedaan ini, yang hanya aku inginkan aku bisa
melihatnya. Perlu tanda kutip, aku belum bisa mengakui ini cinta yang menyapa
kembali.
4
hari sebelum Oktober berlalu. Ketika hatiku masih dalam keadaan sedikit
terpaut. Kamu, Lelaki yang diam-diam selalu kutitipkan do’a disetiap malamnya,
lelaki yang selalu kuingat ketika ingin beranjak. Lelaki yang selalu kurindukan
tiap musim penghujan datang, lelaki yang selalu kunantikan disetiap pergantian
senja dilangit jingga. Yah, kamu. Lelaki senja. Dengan pakaian kedewaanmu,
pembalut tubuh tirusmu bercorak cokelat, gaya
tingkahmu yang masih tetap lekat. Tidak mungkin terlupa, tak salah lagi !!
lelaki itu kamu. Oh Tuhan, apa-apaan ini ?? mengapa disetiap aku hendak melupa,
kau selalu hadirkannya??
4
tahun tak jumpa, yakinku.. kau sudah lupakanku. Entah, aku harus berlagak
bagaimana ?? sedang kamu berjubah kesombongan. Tiba-tiba aku mendambakan hujan
lagi, ingin membaurkan air mataku dengan air Hujan. Agar tak ada yang tahu,
bahwa aku tersiram air garam yang amat memilukan. Ah, aku ingin menangis.
Karena dihadapanku, orang yang diam-diam masih mengisi hatiku tanpa kusadari.
Oh Tuhan mendamba, kami beradu pandang. Aku, gadis yang pernah kamu kenal dulu.
Gadis bodoh yang tetap saja menikamati kebodohannya.
28
Oktober 2012, Minggu. Kami bertemu. Aku dan lelaki senja. Dan, dengan dua
lelaki yang sebelumnya hadir dalam hidup. Lelaki senja, menatapmu saja adalah
bahagia yang tak ada bandingannya. Bahkan aku tak pernah membayangkannya
sekalipun. Lelaki salju, Nihil !! aku
sudah tak merasakan apa-apa. Benar-benar pudar. Hanya saudara. Itu saja. Lelaki
separuh dewa, aku sudah menemukan seseorang yang memang sudah enam tahun
kuharap. Aku, Tuhan.. bila ini adalah sebuah harapan darinya, aku serahkan saja
padaMu. Aku sudah tak ada perkiraan lagi tentang pertemuan ini. Aku sudah
terlalu banyak habiskan prasangka dan harapan. Jadi, apapun yang kan terjadi kelak,
semoga sama-sama membahagiakan. Semoga kelak, aku bisa mencicipi hidupnya, dan
diapun begitu. Aku ingin, dia yang terbaik untukku. Lelaki senja.
Tak
sampai tujuh kali pergantian senja, dia kembali pergi. Setelah ada harapan, dai
menutup dan kembali pergi. Terhempas berkali-kali. Aaah, bila memang jodoh,
kita akan bertemu lagi. Bbbila memang jodoh, kita takkan keman-mana. Entah
kapan Tuhan kan
mempertemukan lagi. Terakhirkah ?? atau, awal yang takkan menjadi akhir?? Tuhan
sang Maha, biarkan saja kali ini aku kembali menuai pena dan kembali meramaikan
kertas sobekan dengan namanya. Bismillah.. kita kan bertemu lagi ka’.. cukup. Kamu terakhir.
Aku takkan pada siapa-siapa lagi. Karena memang hnay kamu temaptku kembali.
Ka’, izinkan aku berkata.. bahwa kurasa kamu selalu aku rindukan disetiap
malam. Kelak, ketika Tuhan memang meminang kita pada sesuatu yang sacral, akau
akan berkata pada dunia, bahwa do’a dan do’alah yang mendekatkkan kita. Jika
Tuhan menghendaki kita masing-masing, itu berarti Tuhan sudah menyiapak yang
lebih baik daripada harapan kita. Sekarang, aku ikhlaskan kamu mencari
jalanNya. Menuju kasihNya. Bila sudah kamu temukan, mohon kembalilah, meski
untuk berkata ‘ selamat tinggal. Karena apapun yang terjadi, kebahagiaanmulah
satu-satunya. Karena, kebahagiaanmu lah yang sangat aku harap. Meski bukan aku
yang membuatmu bahagia. Aku ikhlas, jika seandainya bukan aku yang kan menemani
perjuanganmu kelak. Itu berarti, Tuhan sudah siapkan takdir kita denga jalan
yang berbeda. Aku ikhlas melepasmu. Aku real bila memang kamu tak sudi lagi
mengingatku. Aku memang debu. Aku yakin debu ini bisa tegar meski bukan
denganmu.
Oh
Tuhan, mohon.. selimuti dia denga kedamaianmu, hangatkan dia bersama kehangatan
malamMu. “ ka’.. 6 tahun sudah selalu kupanjatkan do’a serupa. Aku saja tak
menyadarinya, ah, apakah kamu merasakannya??
Satu hal, ka’.. bila nanti kita bertemu
dalam keadaan sendiri-sendiri, izinkan aku mengatakannnya, agar kamu tahu bahwa
gadis sepertiku, sempat bahkan bertahun-tahun lamanya mendewakan sosok senja,
Fairuz Farizi.
Memenggal
rindu terhadapmu lagi,
Tiada ulasan:
Catat Ulasan