Ahad, 20 Januari 2013


14 November 2006, Selasa.
Ketika senja hendak tutup kisahnya pada jingga, ketika malam kan segera bertandang pada langitNya, kamu dengan titahmu memberiku amar untuk beranjak. Tertegun iya, namun kuanggap angin lalu saja. Aah, hanya sementara saja menurutku. Karena setelahnya, kepergianmu hanya membuatku berkabung kelabu. Apa guna aku tetap melarutkan malamku dengan mendewakan bayang semu yang hanya sementara?? 14 November-31 Desember, tak 2 bulan sekalipun sudah tiada raganya. NIHIL !!
Baiklah, kamu hanya angan yang tak bisa tersentuh. Asa yang tergantung pada awan.
Dan bila, ketika tatihku bisa kutegakkan, ketika semua sudah kuwakafkan, ketika nama agungmu sudah tak kudewakan seperti dulu, juga bayangmu sudah tak kuharapkan jadi kenyataan, kamu..

01 Oktober 2008 Rabu. Kembali bisa kutemukan jejakmu dibalik senja. Ah, tak ada hal yang kebetulan didunia ini, Tuhan pasti sudah mengaturnya. Titik. Kita bertemu dibalik kata melalui satelit ciptaanNya. Hingga, sang hakim hukum meminang kita pada pertemuan menjelang senja.
Hingga 10 Oktober 2008, Jum’at. Kamu sudah berbeda. Mengenakan pakaian hitam khas kedewaan, gaya bicara yang tetap memukau titah. Hh, perkenalan. Aku mengenal, kamu mengenal. Bahkan kita, sama-sama terkenal. Terkenal dikalangan Tuhan dan MalaikatNya karena ribuan do’a yang dulu sangat selalu kupanjatkan, kini sudah kembali menjadi harapan yang ingin aku gapai sejak senja pertama setelah jarak ribuan meter memisahkan kita. Sejak hari itu, aku kembali dan lagi-lagi mendewakanmu. Kembali menyebut namamu dalam barisan do’a panjang disetiap malam yang tak pernah kuhentikan. Masih kuingat jelas dialog singkat kita pada hari itu, dialog akan kehidupanmu yang sangat buatku iri ingin merasakannya. Ingin mencicipi alur ceritamu bersama mereka. Babah Mamah yang selalu kamu agungkan. Ah, sepertinya aku mulai merajut mimpi tentang surganya hidup bersamamu dan keluarga kecilmu. Aku mulai mengakui kembali bahwa itulah ‘cinta yang tak pernah mau kuakui dulu.
Sepertinya, senja mulai singkapkan langit. Malam sudah kepakkan sayap hendak membentangkan bintangnya. Ia sudah intip langit berkali-kali agar ‘dia beranjak dari dialog singkat kami. Aigoo, akhirnya kamu pulang. Kembali pada istana yang selalu kamu puja puji. Pergi. Lagi dan lagi. Entah, mungkin akan jadi pertemuan terakhir kita. Ah, mengapa harus bersua jika kita harus berpisah?? Bahkan, kamu hanya sekali saja menoleh ke arahku, menoleh pada arahku. Lagi, hanya kala senja itulah kamu beradu kisah padaku tentang segala hal. Hh, pasrah. Aku tak mau mengemis. Sudah kucukupkan. Kupikir ini anugerah Tuhan yang mempertemukan kita disuatu majelis yang kuharap kelak, kita kan rajut kehidupan. Ah, aku melupakan sesuatu. Aku debu, bahkan tak terlihat. Mana bisa aku berharap, Tuhan??
Selepas hari dimana kamu pergi, aku hanya hiasi sujudku agar kamu masih terbuka hati untuk sekedar memberiku arahan hidup. Yah, sempat aku temukan satu pesanmu yang sungguh sangat ingin aku abadikannya. ‘harus tirakat’. Itu juga pesan babah padamu ketika kamu hendak menuntut ilmu, bukan? Ah, bunga berwarna pink mulai menari-nari dihatiku. Aku bak puteri debu yang tersinari akan cahaya dewa. Ah, lagi-lagi redup. Sinarmu telah kamu ganti dengan cahay lilin yang sinarnya antara hidup dan mati. Diambang ketercekikan.
13 Oktober 2008, aku pergi. Ikhlaskan pada Bumi Tuhan jika memang akan ada pertemuan. Sudah aku wakafkan agar Tuhan kembali takdirkan. Ah, kepergianku melupa. Karena kamu pun, juga pergi. Kita sama-sama pergi. Menuju Tuhan. Kamu, melupa sebelum terlupakan. Ah, asaku kembali terpenggal jarak dan waktu. Baiklah, jika memang khitab Tuhan, kelak kita pasti dipertemukan.
29 April 2009, aku muncul sebagai orang lain. Menceritakanmu akan gadis yang selalu mndewakanmu setiap waktu selama bertahun-tahun. Menceritakanmu akan ribuan harapan yang sudah ia rajut. Huufth, kamu tak tau bahwa orang yang dimaksud adalah ‘Aku. Diriku sendiri. dan pesanmu..
‘jika memang jodoh, aku ga akan kemana.
Titik. Gerimis. Aku harap hujan hadir, menemani deraian air mata yang memak kali . Aku dalam ketercekikan. Ah, kamu tetap tak tau. Tetap diam karena kamu memang pendiam. Aku mulai tak sabar. Mulai nekat bertingkah. Memburu angina yang dapat membawa kabar. Aku tekadkan memburu kabarmu melalui sosok karib disana. Dan ia memberiku angina yang mampu runtuhkan tegakku. Kamu, pergi. Lagi dan lagi. Ah, kali ini pergimu sedikit mendamaikanku, menenangkanku. Pergi menuju Tuhan kita. Mengemis cinta Tuhan , pula cinta kasihNya.
Jakarta: maaf, aku mengajaknya mengenal wilayahku. Wilayah metropolitan, namun ku tempatkan ia pada tempat yang berjiwa penuh Nabi.
Nurul Musthafa. Majlis ta’lim Habib Ha san bin ja’far Assegaf.
Kamu menjadi tangan kanan beliau. Entah, berkecamuk. Aku khawatir. Namun berbahagia. Ah, bahkan, aku juga iri. Aku simpan bersit kekhawatiranku. Aku yakinkan bahwa kamu bisa berjaga diri. Aku yakin Tuhan akan menemani langkahmu. Karena tujuanmu pun sangat mulia karenaNya. Ah, aku juga iri, karena kamu mulai belajar mencintai Nabidengan nyata. Seolah-olah kamulah ummat terdekat dengannya. Aku ingin menyusulmu, sungguh. Bukan karena ingin bersamamu, bukan karena selalu ingin melihat adamu. Melainkan, aku juga ingin belajar. Benar-benar hany mencintai Tuhan dan kekasihNya. Ah, cukup. Kamu saja. Biarkan aku saja yang mendo’akanmu agar kamu benar-benar meraihNya.
12 September 2009.
Jakarta merenggutmu dari wilayah kita. Entah, sampai kapan kamu bertahan di daerah kekuasaan metropolitan. Semoga kamu, bisa menjaga diri, menjaga kesucian hati dan kesucian diri. Tak masalah jika kamu pun kembali pergi asal pergimu menuju ilahi. Meski aku kan terlupa lagi nanti. Ah, 2006-2009. Masih kusibukkan malam-malamku dengan butir-butir do’a, berdo’a agar Tuhan lebih dengarkan do’amu. Hanya sesederhana itu. mendo’akanmu agar mendapatkan kebahagiaan selalu. Meski bahagiamu tak ada padaku.
            13 Maret 2010. Setelah pergantian bulan yang cukup lama, aku kembali teringat asa. Ah, September-maret. Menghilang. Bahkan mungkin yang sempat aku tahu, keluargamu juga menanyakan keberadaanmu. September-Maret. Kamu memutus segala jalur komunikasi. Satu-satunya jalan yang bisa membantuku mengetahui kabarmu. Oh Tuhan.. kami sudah 2 tahun tak bertemu, aku ingin melihatnya, ingin bersua asa meski kan terhempas nantinya. Aku hanya ingin mendengar suaranya saja, agar kutemukan alas an tuk kubertahan. Dengar sebentar saja harapku ini, ya Tuhaaan..
Yah, Maret. Tuhan jawab harapku dengan sedikit keterpaksaan mungkin. Suaramu tatp saja penuh lembut bijak. Ah, satu hal. Tanpa kusebutkan nama, kamu selalu paham siapa yang sedang berdialog denganmu. Satu asa yang bisa tersisa meski nantinya akan kembali tertiup angin. ah, sedikit asa saja sudah buatku menjadi gadis bodoh yang benar-benar bodoh. Sekian tahun, belasan minggu, dan ribuan hari telah aku bunag begitu saja waktuku hanya untuk menyelinapkan namanya pada angina disetiap malam., agar ia menyelimuti raganya dengan kedamaian dan kehangatan. Lelaki senja. Memenggal rindu yang tak bersisa.
Maret-september. Tetap saja berdzikir namamu. Ratusan, bahkan ribuan kali. Wah, sungguh bodoh, bukan ?? entah, aku masih tak mngerti mengapa Tuhan belum haramkan hatiku untuk menghapusnya. Namun, ketika pada malam-malam aku leawti dengan kesepian yang menyakitkan, juga dengan tanpa kawan, sepertinya.. aku sudah mulai enggan tuk medewakanmu. Aku tersadar bahwa aku butuh kawan yang secara langsung bisa memberiku arahan. Dan, Tuhan mengirimkannya. Tuhan kirimkan orang lain untuk sementara jadikannya badal. Aku sama sekali tak pernah mneyamakan sosok itu dengan sosokmu. Kamu abadi.
18 September 2010. lelaki lain menyuguhkanku kedamaian. Sedikit mengiyakan, tapi belum rela mendewakan. Karena yang kudewakan hanyalah lelaki senja yang takkan pernah berubah. Meski sedikit jujur, aku sudah mulai perlahan tuk melupakannya. Dan setelah itu, ada beberapa lelaki yang datang silih berganti pada beranda kehidupanku. Sempat dekat, sempat berbagi asa, bahkan sempat bertukar do’a. Sepertinya, sudah benar-benar melupakan senja.
Satu tahun, 2011. Aku benar-benar menafikan lelaki senja. Meski ada, aku selalu saja berpura-pura lupa untuk berkomunikasi dengannya. Dan tanpa ditanyapun,  aku tetap terhempaskan. Aaah sakit, Tuhan.
April 2011. Semuanya terungkap. Tuhan, kini biarkan dia tahu ! yah, dia tahu semuanya. Dia tahu bahwa dialah lelaki senja yang kumaksud. Akupun juga yakin bahwa dia tahu jauh sebelum aku pastikan dia tahu. Dan tahukah ?? segala pernyataan dari seorang teman yang menyampaikan hanyalah berupa kata, “oooh.. truz aku harus gimana??” ujarnya. Aku tahu bahwa katika kamu mendengar pernyataan itu sedang dalam kebisingan. Dan kembali aku harus menimbulkan bebarap pikiran-pikiran positif meski mungkin hanyalah sisi negative yang bisa kutemukan. Namun meski begitu, sudah kuyakinkan bahwa aku bertekad kan benar-benar mewakafkan segalanya pada Tuhan. Usai sudah. Aku akan mencoba menerima orang baru dalam hidupku. Hingga tiba pada bulan Februari 2012, aku menemukan orang lain. Aku sebut dia ‘lelaki berhati salju. Pada orang ini, aku bisa curahkan bebanku. Beda denganmu yang selalu datang dan tiba-tiba pergi. Ia benar-benar memberiku naungan ketika aku tak menemukan tempat berdiam. Bahkan, kami dekat. Sangat dekat. Melebihi dekatmu, dan dekatku. Namun sama, aku masih bersifat abu-abu dengannya. Karena sejak awal pertemuan kami, aku memperkenalkan sosokku sebagai adik. Dan memang, ia hanya menganggapku adik. Ah, meski begitu, aku cukup bahagia. Karena dialah orang setelahmu pertama yang dapat aku akui bahwa aku sempat mencintainya. Asaku tetap mengalir, dia masih sempurna di hadapanku. Meskipun sejak awal perkenalan kami, aku sudah banyak menemukan aib-aib tentangnya. Namun entah, aku kembali buta. Hingga sampai pada suatu hari, aku tersadar bahwa aku dan dia memang tidak akan bersatu menjalin masa depan bersama. Dan aku harus bisa menyapu kenangan terindah Tuhan yang sempat terlukis dalam sejarah. Sampai pergiku pada tempat menuntut ilmu di daerah bagian barat. Pare: aku mengajakmu mencicipi dunia luar. Dunia yang akan membuatmu mengerti akan kebebasan dengan menyandang siksaan.
Juli 2012, aku faham beberapa macam pergaulan, dan gaya hidup. Ah, kembali teringat akanmu, Lelaki senja. Disini, aku menemukan sosok sepertimu. Menemukan orang-orang yang mungkin gaya hidupnya akan sedikit sama dengan gaya hidupmu disana. Sudah sudah !! cukup. Setahun sudah kuwakafkan pada Tuhan, dan tak boleh lagi ku galih tanah yang sudah gersang harapan.
Agustus 2012, disela prosesku melupakan lelaki salju, sosok lelaki penyelamat, sekaligus penyemangat hadir dalam hari-hariku. Suguhkan beberapa arahan yang sudah sejak dulu aku harapkan. Menuntunku serta mengajakku pada pinggiran harapan yang ternyata juga entah pada kenyataan. Ah, bahakna aku rtak berharap akan ada seseorang lagi. Apa boleh dikata, aku terlanur jatuh pada rayuan kehidupan yang menjanjikan. Bahkan, ia menjanjikan keseriusan meski aku masih mensanksikannya. Sadarkah bahwa aku wanita ?? yang sangat lemah bila disentuh perasaannya. Oh Tuahn mendamba.. harus aku apakan lelaki ini ?? meski banyak perbedaan diantara kami, aku siap memperjuangkannya dihadapan abah dan ummi, agar ia dipandang layak oleh kedua orang tuaku. Meski ketika itu, aku tak ada getaran sekalipun terhadapnya. Dan ketiak aku mencoba suguhkan nama pada abah umi, tiba-tiba saja ia berkata tak siap. Hah?? Lelaki macam apa dia ?? hanya ingin mempermainkanku ?? kalau begitu, dia salah. Karena aku masih tak benar-benar padanya meski aku akui aku takut bila kehilangannya. Sangat !!. bailkah, anggap diantara kita tak ada apa-apa. Kitapun juga belum berkomitmen apapun, bukan ?? aku berhak ternafikan. Biar sudah, Tuhan belum mau mengindahkan cerita yang satu ini.
Pertengahan sepetember- akhir Oktober, meski pada lisan berkata tak ada apa-apa, sepertinya aku merindukan lelaki itu, lelaki yang sempat kujuluki ‘lelaki separuh dewa. Sering mencari sisa bayangnya di ujung terik pertemuan yang selalu tak berpihak. Mulai berharap bahwa ia kan kembali menawrkanku tentang keseriusan itu. Namun aku tahu, kami menag berbeda. Sangat banyak kutemukan perbedaan. Hingga, aku sedikit meragukannya. Ah, biar saja, aku tak ingin memikrkan pernedaan ini, yang hanya aku inginkan aku bisa melihatnya. Perlu tanda kutip, aku belum bisa mengakui ini cinta yang menyapa kembali.
4 hari sebelum Oktober berlalu. Ketika hatiku masih dalam keadaan sedikit terpaut. Kamu, Lelaki yang diam-diam selalu kutitipkan do’a disetiap malamnya, lelaki yang selalu kuingat ketika ingin beranjak. Lelaki yang selalu kurindukan tiap musim penghujan datang, lelaki yang selalu kunantikan disetiap pergantian senja dilangit jingga. Yah, kamu. Lelaki senja. Dengan pakaian kedewaanmu, pembalut tubuh tirusmu bercorak cokelat, gaya tingkahmu yang masih tetap lekat. Tidak mungkin terlupa, tak salah lagi !! lelaki itu kamu. Oh Tuhan, apa-apaan ini ?? mengapa disetiap aku hendak melupa, kau selalu hadirkannya??
4 tahun tak jumpa, yakinku.. kau sudah lupakanku. Entah, aku harus berlagak bagaimana ?? sedang kamu berjubah kesombongan. Tiba-tiba aku mendambakan hujan lagi, ingin membaurkan air mataku dengan air Hujan. Agar tak ada yang tahu, bahwa aku tersiram air garam yang amat memilukan. Ah, aku ingin menangis. Karena dihadapanku, orang yang diam-diam masih mengisi hatiku tanpa kusadari. Oh Tuhan mendamba, kami beradu pandang. Aku, gadis yang pernah kamu kenal dulu. Gadis bodoh yang tetap saja menikamati kebodohannya.
28 Oktober 2012, Minggu. Kami bertemu. Aku dan lelaki senja. Dan, dengan dua lelaki yang sebelumnya hadir dalam hidup. Lelaki senja, menatapmu saja adalah bahagia yang tak ada bandingannya. Bahkan aku tak pernah membayangkannya sekalipun.  Lelaki salju, Nihil !! aku sudah tak merasakan apa-apa. Benar-benar pudar. Hanya saudara. Itu saja. Lelaki separuh dewa, aku sudah menemukan seseorang yang memang sudah enam tahun kuharap. Aku, Tuhan.. bila ini adalah sebuah harapan darinya, aku serahkan saja padaMu. Aku sudah tak ada perkiraan lagi tentang pertemuan ini. Aku sudah terlalu banyak habiskan prasangka dan harapan. Jadi, apapun yang kan terjadi kelak, semoga sama-sama membahagiakan. Semoga kelak, aku bisa mencicipi hidupnya, dan diapun begitu. Aku ingin, dia yang terbaik untukku. Lelaki senja.
Tak sampai tujuh kali pergantian senja, dia kembali pergi. Setelah ada harapan, dai menutup dan kembali pergi. Terhempas berkali-kali. Aaah, bila memang jodoh, kita akan bertemu lagi. Bbbila memang jodoh, kita takkan keman-mana. Entah kapan Tuhan kan mempertemukan lagi. Terakhirkah ?? atau, awal yang takkan menjadi akhir?? Tuhan sang Maha, biarkan saja kali ini aku kembali menuai pena dan kembali meramaikan kertas sobekan dengan namanya. Bismillah.. kita kan bertemu lagi ka’.. cukup. Kamu terakhir. Aku takkan pada siapa-siapa lagi. Karena memang hnay kamu temaptku kembali. Ka’, izinkan aku berkata.. bahwa kurasa kamu selalu aku rindukan disetiap malam. Kelak, ketika Tuhan memang meminang kita pada sesuatu yang sacral, akau akan berkata pada dunia, bahwa do’a dan do’alah yang mendekatkkan kita. Jika Tuhan menghendaki kita masing-masing, itu berarti Tuhan sudah menyiapak yang lebih baik daripada harapan kita. Sekarang, aku ikhlaskan kamu mencari jalanNya. Menuju kasihNya. Bila sudah kamu temukan, mohon kembalilah, meski untuk berkata ‘ selamat tinggal. Karena apapun yang terjadi, kebahagiaanmulah satu-satunya. Karena, kebahagiaanmu lah yang sangat aku harap. Meski bukan aku yang membuatmu bahagia. Aku ikhlas, jika seandainya bukan aku yang kan menemani perjuanganmu kelak. Itu berarti, Tuhan sudah siapkan takdir kita denga jalan yang berbeda. Aku ikhlas melepasmu. Aku real bila memang kamu tak sudi lagi mengingatku. Aku memang debu. Aku yakin debu ini bisa tegar meski bukan denganmu.
Oh Tuhan, mohon.. selimuti dia denga kedamaianmu, hangatkan dia bersama kehangatan malamMu. “ ka’.. 6 tahun sudah selalu kupanjatkan do’a serupa. Aku saja tak menyadarinya, ah, apakah kamu merasakannya?? 
Satu hal, ka’.. bila nanti kita bertemu dalam keadaan sendiri-sendiri, izinkan aku mengatakannnya, agar kamu tahu bahwa gadis sepertiku, sempat bahkan bertahun-tahun lamanya mendewakan sosok senja, Fairuz Farizi.

                                                                        Memenggal rindu terhadapmu lagi,
  

Tiada ulasan:

Catat Ulasan